Laman

Sabtu, 02 Juni 2012

Tolong Maafkan Aku Kawan

"Tolong maafkan aku kawan". Dua orang sahabat karib sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar, dan salah seorang menampar temannya. 

Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir : 
HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU. 

Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil diselamatkan oleh sahabatnya.  

Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu: 
HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU.

Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya, 
"Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu?" 

Tuluskah Senyumku Untukmu

Tuluskah Senyumku Untukmu
Apa yang akan Anda lakukan ketika berjumpa seseorang dengan sesungging senyum manis di lekuk bibirnya? Bandingkan reaksi Anda apabila orang yang dijumpai itu mengerutkan bibir dengan tatapan mata tajam. Tak ada ekspresi senyum sedikit pun di wajahnya. Hampir pasti akan muncul respons berbeda untuk dua situasi tersebut.

Ekspresi di wajah seseorang berpengaruh langsung terhadap pola komunikasi dan bentuk interaksi sosial yang terjadi, termasuk ekspresi balasan yang ditampilkan kemudian.

Di gerbang tol Jatiwarna, Bekasi, misalnya, bagai oase saat memasuki antrean di salah satu gerbang tol. Saya juluki gerbang tol itu paling cerdas dari sekian banyak gerbang tol yang tersebar di seluruh wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Gerbang pada ruas Jatiwarna ini adalah loket jalan keluar menuju salah satu taman wisata di timur Jakarta, Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Meski antrean kendaraan begitu panjang, petugas selalu proaktif mengambil kartu, menerima pembayaran, dan siap dengan uang kembali.

Istri dan Mantan Istri

Suatu sore dipinggiran kampus, aku seperti biasa, makan nasi goreng kesukaanku. Nasi goreng. Ya hanya nasi goreng yang biasa dijajakan melalui gerobak dorong. Boleh di kata bahwa inilah nasi goreng kesukaannku, selain enak juga murah. Sekian lama aku menjadi pelanggan, sedikit demi sedikit muncul keberanianku untuk bertanya masalah yang cukup sensitif : Masalah keluarga.

Pak Toyib (nama samaran), memang selalu mengganjal dalam fikiranku. Karena ketika kami berinteraksi, tampak jelas dari isi pembicaraan, gaya bahasa yang digunakan bukanlah bahasa orang yang tidak berpengalaman. Usianya sekitar 68 tahun, meskipun rambut dan kumisnya telah memutih, tetapi tatapan matanya sangatlah tajam, setajam tatapan mata para dosen di kampusku. Terkadang aku kasihan melihatnya, karena tampak ia dengan sangat terpaksa mendorong gerobak. Tubuhnya tidaklah kekar.

Waktu itu kebetulan tidak ada pembeli yang singgah, sehingga sambil menikmati nasi goreng aku dapat mendengarkan kisah hidupnya. Seperti yang telah beliau ceritakan, bahwa beliau memiliki lima orang anak. Dua orang dari istri pertama, dan tiga orang dari istri kedua.

Yes, I Like Monday

jenuh
Kecuali robot, hampir setiap karyawan pernah punya masalah jenuh bekerja. Tak peduli bos maupun karyawan biasa. Jika Anda termasuk salah satunya, don wori, bi api.

Anda bisa menyelesaikan masalah itu asal mau melakukan sesuatu yang tak bisa dilakukan robot: mengubah pola pikir!

Kujemu dengan hidupku ... Kerja keras bagai kuda, dicambuk dan didera ...

Ulung dan Yuni, sepasang sohib karib yang bekerja di sebuah industri kimia, suka menyanyikan lagu Koes Plus ini bareng-bareng di tahun 2001. Waktu itu mereka sama-sama jenuh setelah bekerja selama dua tahun. Keduanya jemu dengan hidup mereka yang tak beranjak dari mes ke pabrik. Berangkat kerja saat Matahari baru terbit, lalu seharian berurusan dengan mesin dan bahan-nahan kimia. Pulang kerja menjelang Matahari terbenam, masuk mes, nonton teve, tidur. Esoknya bangun, kerja lagi, dan begitu seterusnya siklus hidup mereka.

Di akhir tahun, Ulung mengundurkan diri karena merasa tak sanggup lagi bertahan. Sementara sahabat karibnya memilih tetap di tempat. Tiga bulan setelah keluar, Ulung mengirim pesan pendek kepada sohib-nya, "Secapek-capeknya kerja di pabrik, masih lebih enak daripada jadi pengangguran."

Jumat, 01 Juni 2012

10 Kualitas Pribadi yang Disukai

Setiap pribadi memiliki karakter yang sangat variatif dengan berbagai macam kualitas penilaian dari masing-masing manusia. Tentunya hasil penilaiannya tidak jauh dari nilai jelek, lumayan, bagus dan sangat bagus. Semakin bagus kualitas pribadi seseorang, semakin besar peluang seseorang untuk disukai. Berikut ini merupakan 10 kualitas pribadi yang disukai:
  1. Tulus
    Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura-pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya, 'Ya jika Ya dan Tidak jika Tidak'. Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.

Hidup Itu Harus Semangat

Pagi ini saat Anda terbangun, sadarkah Anda bahwa Anda sedang bernafas? Atau segala rutinitas Anda telah membuat Anda menjadi terlalu sibuk untuk menyadari bahwa sebenarnya diri Anda masih hidup.

Selama kita masih hidup, berarti kita telah siap menerima segala surprise kehidupan. Tidak ada jenis surprise yang baik atau buruk, semua itu tergantung kita, apakah kita bisa menerimanya atau tidak. Suka ataupun tidak, hidup itu harus dijalani. Bagaimana kita menjalaninya tergantung cara kita menghadapinya. Ada satu cara cerdas untuk mengawalinya. Semangat!!!

Banyak orang hidup dalam perasaan tertekan, khawatir, dan lesu. Keadaan ini hanya akan menghasilkan pikiran negatif dalam benak Anda, Anda hanya akan menjadi orang yang pesimis, tidak berdaya, lemah, dan stress. Jangan menambah tumpukan racun dalam diri sendiri.

Cinta dan Waktu

Cinta dan Waktu
Alkisah di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak, ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu.

Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri. Cinta sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu.

Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air makin naik membasahi kaki Cinta.

Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu.

"Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!" teriak Cinta.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...