Dengan selalu memotivasi diri akan memicu semangat agar senantiasa berfikir positif. Dengan kebiasaan berfikir positif akan terbentuk karakter positif. Orang berkarakter positif akan selalu menghasilkan karya-karya yang positif. Diawali dengan berfikir positif, orang akan terbebas dari penjara mental.
Dalam berbagai seminar pengembangan diri dan manajemen pikiran yang saya lakukan, saat saya bertanya pada peserta seminar, "Mengapa orang sukses?" atau "Mengapa orang gagal?" maka saya selalu mendapatkan jawaban yang beragam. Terlepas dari jenjang pendidikan peserta seminar, saya selalu mendapatkan jawaban yang justru bersifat menghambat diri mereka untuk bisa mencapai keberhasilan hidup. Jawaban-jawaban itu mencerminkan sistem kepercayaan yang justru telah mengurung mereka dalam satu zona kenyamanan yang tidak nyaman, dan telah menjadi penjara mental yang tidak mereka sadari.
Penjara mental yang saya maksudkan adalah berbagai kepercayaan yang salah, yang mereka terima sebagai sesuatu yang benar, tanpa pernah mereka periksa keabsahan dan kebenaran kepercayaan itu. Setiap kali saya bertanya "Mengapa orang sukses?", jawaban standar yang saya dapatkan adalah karena faktor keturunan, hoki, pendidikan, koneksi, hari lahir/jam lahir, nasib, jenis kelamin, shio/zodiak, modal, dan kesehatan/fisik. Anehnya, bila saya bertanya, "Mengapa orang gagal?", maka saya juga mendapatkan jawaban yang kurang lebih sama dengan jawaban di atas.
Yang lebih aneh dan memprihatinkan, setelah saya membahas dan menerangkan bahwa semua jawaban mereka itu adalah kepercayaan yang salah, tetap masih ada peserta seminar yang bersikeras bahwa apa yang
mereka percayai, sebagai faktor yang menentukan keberhasilan atau kegagalan hidup, adalah hal yang benar. Alasannya adalah karena kepercayaan itu adalah pelajaran yang mereka dapatkan dari orangtua, guru, atau figur yang mereka kagumi dan hormati.
Penjara mental yang saya maksudkan adalah berbagai kepercayaan yang salah, yang mereka terima sebagai sesuatu yang benar, tanpa pernah mereka periksa keabsahan dan kebenaran kepercayaan itu. Setiap kali saya bertanya "Mengapa orang sukses?", jawaban standar yang saya dapatkan adalah karena faktor keturunan, hoki, pendidikan, koneksi, hari lahir/jam lahir, nasib, jenis kelamin, shio/zodiak, modal, dan kesehatan/fisik. Anehnya, bila saya bertanya, "Mengapa orang gagal?", maka saya juga mendapatkan jawaban yang kurang lebih sama dengan jawaban di atas.
Yang lebih aneh dan memprihatinkan, setelah saya membahas dan menerangkan bahwa semua jawaban mereka itu adalah kepercayaan yang salah, tetap masih ada peserta seminar yang bersikeras bahwa apa yang
mereka percayai, sebagai faktor yang menentukan keberhasilan atau kegagalan hidup, adalah hal yang benar. Alasannya adalah karena kepercayaan itu adalah pelajaran yang mereka dapatkan dari orangtua, guru, atau figur yang mereka kagumi dan hormati.
