
Untuk kesekian kalinya, kita harus ingat bahwa kekerasan akan melahirkan kekerasan baru. Pelampiasan dendam akan memunculkan dendam baru yang tak kalah keji.
Mungkin sudah menjadi sifat manusia yang gampang sekali mabuk kekuasaan. Mengalahkan atau menaklukkan musuh dianggap sebagai pintu untuk berbuat apa saja, sekehendak hati dan tanpa mengenalbatas. Sekalipun perbuatan tersebut telah melanggar batas-batas moral dan perikemanusiaan. Titah penguasa di puncak kekuasaan tak bisa dibantah oleh siapa pun, sekalipun bantahan itu mengandung kebenaran. Kita, seharusnya bisa mengambil hikmah dari sejarah kelam masa silam ini.

Kita ambil contoh saat Myke Tyson berada di puncak kejayaannya. Sayang sekali, kesuksesan yang diraihnya dengan pengorbanan yang besar, tidak diimbangi dengan kualitas mental. Yaitu mental kaya yang semestinya dimiliki oleh olahragawan besar sepertinya. Akhirnya, Myke Tyson terperosok dalam kasus-kasus yang menyulitkan hidupnya, sekaligus memudarkan nama besar yang pernah digenggamnya.

Sukses, nama besar, dan kekuasaan politik disikapi secara berbeda menurut kualitas mental yang dimiliki seseorang. Bagi mereka yang bermental miskin, kekuasaan, sukses, dan nama besar bisa membuatnya lupa diri, sombong, paranoid, atau penyakit-penyakit mental lainnya. Tetapi bagi mereka yang bermental kaya, kekuasaan, sukses, dan nama besar disikapi sebagai sesuatu yang tidak abadi. Sebab itu, mereka menggunakannya untuk menciptakan lebih banyak kebaikan, yang mendatangkan inspirasi dan motivasi bagi orang lain, untuk melakukan hal yang sama.
[ Andrie Wongso ]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan mengisi komentar, mudah-mudahan bermanfaat untuk semua pengunjung.