Anda yang saat ini berdiri tegak, berjalan dengan kepala terangkat, merendahlah, duduklah barang sesaat untuk dapat melihat orang-orang disekitar yang tengah merangkak, terkapar, bahkan sekarat diterjang kefakiran, ketidakpunyaan, kebodohan, kemaksiatan dan ketertindasan. Bukankah hanya dengan merendah semua bentuk keprihatinan akan terlihat dengan jelas oleh mereka yang berdiri. Dan bukankah jika terus berdiri mata ini hanya akan lebih terfokus menatap ke depan sehingga tak jarang kita lupa untuk sesekali saja melihat ke bawah.
Sekedar mengingatkan, tanpa disadari, harta, keluarga yang bahagia, jabatan dan kehidupan yang mapan tak jarang membangun ketinggian hati dan menjulangkan menara harga diri sehingga seringkali kita lupa bahkan enggan duduk merendah, menyapa dan mengulurkan tangan kepada mereka yang sudah terbiasa menganga menahan haus dan lapar, terbelalak menyaksikan pameran kekayaan yang seringkali kita pertontonkan di hadapan mereka, melewati piring-piring kaleng kosong dan mangkuk-mangkuk plastik tempat menaruh receh di pinggir jalan. Sekali lagi, berhentilah, duduklah barang sesaat agar nampak jelas apa yang semestinya kita perbuat, agar lebih terdengar suara-suara berbicara dihati ini.
Sekedar mengingatkan, tanpa disadari, harta, keluarga yang bahagia, jabatan dan kehidupan yang mapan tak jarang membangun ketinggian hati dan menjulangkan menara harga diri sehingga seringkali kita lupa bahkan enggan duduk merendah, menyapa dan mengulurkan tangan kepada mereka yang sudah terbiasa menganga menahan haus dan lapar, terbelalak menyaksikan pameran kekayaan yang seringkali kita pertontonkan di hadapan mereka, melewati piring-piring kaleng kosong dan mangkuk-mangkuk plastik tempat menaruh receh di pinggir jalan. Sekali lagi, berhentilah, duduklah barang sesaat agar nampak jelas apa yang semestinya kita perbuat, agar lebih terdengar suara-suara berbicara dihati ini.
