Laman

Tampilkan postingan dengan label asumsi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label asumsi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Mei 2012

Arti Seorang Sahabat

Kenapa disaat terjatuh kita ingin seseorang memeluk kita atau sekedar menemani kita? Mengapa juga ketika disakiti kita inginkan seseorang untuk tempat kita mengadu? Mungkin kita akan menjadi sakit kembali ketika melihat atau mendengar seseorang yang kebetulan mirip dan dekat dengan orang yang pernah melukai kita. Adakalanya dengan ketakutan dan kebingungan kita memutuskan tidak akan pernah percaya dan mencintai siapapun lagi. Kitapun merasakan senang jika ada seseorang yang selalu disisi kita saat sedih maupun saat senang.

Seseorang yang selalu membantu kita tanpa mengharap apapun selain senyuman kita, yang mengerti, yang memahami dan menerima kita apa adanya.

Beberapa dari kita menyebutnya sahabat perjalanan hidup. Sebagian lebih sederhana mengatakan teman seperjuangan. Bagi yang romantis menyatakan kekasih hati. Teruntuk yang telah menikah mengakui bahwa Tuhan menciptakannya agar kita tidak merasa kesepian. Sejauh mana beda dari semua itu?

Rabu, 23 Mei 2012

Diam Itu Emas

Diam Itu Emas
 " Diam Itu Emas "

Di kala anda tak mempunyai kata-kata untuk diucapkan, diamlah. Lebih mudah mengetahui kapan anda harus berbicara dan mengumbar perkataan. Namun,teramat sulit menjaga kapan sebuah jeda harus didiamkan. Ingatlah, bibir bukan hanya untuk dibuka lebar-lebar. Lebih sering kita perlu untuk mengatupkannya rapat-rapat. Berbicara seringkali bagaikan menghamburkan paku pada jalan yang akan dilalui. Kita tak tahu pada paku yang manakah kita akan jatuh tersungkur.

Berbicara memerlukan sebuah pengendalian diri agar kata-kata berbicara sebagaimana mestinya. Sedangkan diam adalah pengendalian itu sendiri yang harus diketukkan untuk menjaga sebuah harmoni. Itulah mengapa orang bijak menyimpan butir-butir emas kebajikan mereka dalam diam.

Minggu, 20 Mei 2012

You Can't Defeat Me

You Can't Defeat Me
 Terkadang begitu mudah bagi kita tuk menyerah ketika dihadapkan pada masalah. Karena kita merasa masalah itu begitu berat, dan tak mungkin kita hadapi dan kita selesaikan ..

Manusia tanpa harapan adalah seseorang yg mati sebelum waktunya. kita begitu rapuh, mudah menyerah seolah  masalah kita itu adalah masalah yg paling berat di muka bumi ini ?

Tidak kawan..tidaklah begitu...
Lihat lah disekeliling kalian..lihat lah kebawah. Jika kita merasa punya masalah dengan kemiskinan., masih banyak mereka yg lebih menderita dari kita, masih banyak mereka masih dihantui ketakutan sepanjang hari akan kelangsungan hidup mereka. Terkadang kita lupa tuk melihat ke sekeliling kita..dan merasakan bahwa denyut kehidupan masih berjalan.

Jumat, 18 Mei 2012

Tak Ada yang Mengalahkan Pesona Kesederhanaan

Tak Ada yang Mengalahkan Pesona Kesederhanaan
Semula kita belajar melakukan hal-hal sederhana. Tak lebih dari satu tambah satu sama dengan dua. Ketika soal-soal itu semakin terasa mudah, kita coba kerjakan yang sulit. Kita rambah puluhan, ratusan, perkalian juga pembagian. Kita namai itu sebagai tantangan. Tak lama tantangan kehilangan daya tariknya jua. Maka, kita kepalkan tangan untuk menaklukkan sesuatu yang rumit, besar, dan tak mudah ditundukkan. Sebuah soal pun dijawab oleh berlembar-lembar perhitungan hingga nyaris tak dikenali lagi mana angka mana tanda baca.

Rapat Efektif

Rapat Efektif
Sudah lima bulan Yuyun diangkat sebagai manajer di bagian penjualan. Senang sih. Tapi ada satu hal yang mengganjal di hatinya. Setiap kali rapat sebagian besar anggota timnya tampaknya malas ikut rapat. Mereka saling menunggu untuk masuk ke ruang rapat. Yang satu sudah masuk, yang lain belum. Yang sudah masuk lalu keluar lagi dengan dalih ingin memanggil temannya yang masih di ruang penjualan. Eh waktu dia pergi, temannya yang ditunggu sudah datang. Sekarang mereka gantian menunggu orang yang tadi keluar.

Karena lama, maka dua orang di antaranya minta izin ke kamar kecil. Ketika yang keluar tadi sudah kembali, mereka tidak bisa langsung mulai karena menunggu kedua orang yang tadi ke kamar kecil. Benar-benar bikin sakit kepala. Apalagi kalau ada yang keluar lagi karena ingin memanggil dua orang yang ke kamar kecil tadi. Akhirnya mereka datang bertiga tujuh menit kemudian. Astaga!

Pada Akhirnya Hanya Keindahan

Pada Akhirnya Hanya Keindahan
Setiap perjalanan (termasuk perjalanan hidup) sering diganggu oleh pertanyaan nakal sekaligus usil: di mana dan bagaimana akhirnya? Disebut nakal dan usil karena pertanyaan ini juga yang membuat manusia buru-buru, tidak sabar, mudah memberi judul gagal. Untuk kemudian, membiarkan hampir setiap pengalaman keseharian kehilangan keindahannya. Seperti berjalan ke Bandung lewat Puncak misalnya. Karena tidak sabar dan buru-buru maka keindahan pemandangan berupa hijaunya daun teh, hamparan pemandangan yang berujung pada kota Jakarta sampai dengan hawa dingin, segar dan sejuk, hilang begitu saja tanpa sempat dinikmati.

Hal yang serupa juga terjadi dengan kehidupan. Setiap langkah yang buru-buru dan tidak sabar mau segera sampai di tujuan, membuat terlalu banyak keindahan yang hilang. Seperti memakan sebatang pisang. Ketika buru-buru tidak saja hadir kemungkinan lidah tergigit, tetapi juga banyak keindahan yang hilang. Memakan pisang (demikian juga hidup) tujuannya bukanlah menghabiskan pisangnya secepat dan sesingkat mungkin. Melainkan menikmati setiap gigitan dan kunyahan. Setiap gerakan mulut sebenarnya menghadirkan keindahan.

Sabtu, 12 Mei 2012

Kapan Kita Berempati kepada Orang Miskin

Kapan Kita Berempati kepada Orang Miskin

Kapan Kita Berempati kepada Orang Miskin?

Jumat sore pekan lalu saya dan beberapa teman melintasi jalur lambat Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Lalu lintas padat. Di depan Bank Permata ada dua orang lanjut usia sedang menarik gerobak penuh kardus. Di depan mereka dua orang bersepeda, masing-masing membawa buntalan tinggi di tempat duduk belakang. Mereka bergerak perlahan menyusuri jalan macet.

Klakson meraung bertalu-talu dari sejumlah pengemudi kendaraan pribadi, yang umumnya adalah kendaraan roda empat. Dua penduduk renta itu terus berusaha menarik gerobaknya lebih kencang. Dua orang bersepeda pun berusaha mengayuh lebih cepat. Mereka terus berpacu karena selalu diklakson pengendara-pengendara mobil di belakang mereka.

Tidak enak rasanya melihat orang kecil mengalami perlakuan seperti itu. Warga yang mapan kerap mengabaikan warga lemah yang tak mampu mengikuti irama cepat. Sebagian warga mapan tak menyadari bahwa klakson bertalu-talu yang tampak sepele itu malah menyayat hati orang kecil.

Jumat, 11 Mei 2012

Garam dan telaga

Garam dan telaga
Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia. Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan.

"Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..", ujar Pak tua itu. "Pahit. Pahit sekali", jawab sang tamu, sambil meludah kesamping. Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu. Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...