Sulit benar membuat orang lain mempercayai pihak lain, walau untuk hal-hal yang sederhana sekalipun. Soal lampu rem misalnya. Jika ia menyala, pasti ada ada hambatan di depan. Maka sudah sepantasnya, si belakang mengikuti si depan karena depanlah yang tengah menjadi imam, melihat dengan mata kepala sendiri, paling menguasai data dan informasi.
Tapi karena azasnya sudah tidak dipercayai, maka otoritas ini sering dianggap sepi. Saat itu, akulah yang mestinya paling berhak untuk mengerti bahwa di depan ada becak yang hendak menyeberang. Biarlah ia lewat, karena bebannya berat amat. Kalau ia harus berhenti dan menggejot dari awal lagi, tentu repot sekali.
Tapi keputusanku ini ternyata cuma membuat mobil di belakang itu salah paham. Baru aku menginjakkan rem saja klaksonnya sudah menyalak galak sekali. Tapi keputusan telah ditetapkan, dan abang becak telah mengambil jalan. Hanya si mobil belakang ini juga telah membulatkan hati: memilih menyalipku katimbang ikut berhenti. Maka yang terjadi terjadilah.
Tapi karena azasnya sudah tidak dipercayai, maka otoritas ini sering dianggap sepi. Saat itu, akulah yang mestinya paling berhak untuk mengerti bahwa di depan ada becak yang hendak menyeberang. Biarlah ia lewat, karena bebannya berat amat. Kalau ia harus berhenti dan menggejot dari awal lagi, tentu repot sekali.
Tapi keputusanku ini ternyata cuma membuat mobil di belakang itu salah paham. Baru aku menginjakkan rem saja klaksonnya sudah menyalak galak sekali. Tapi keputusan telah ditetapkan, dan abang becak telah mengambil jalan. Hanya si mobil belakang ini juga telah membulatkan hati: memilih menyalipku katimbang ikut berhenti. Maka yang terjadi terjadilah.






